Laman

Selasa, 31 Juli 2012

2050, Energi Baru Terbarukan Bisa Capai 35%


2050, Energi Baru Terbarukan Bisa Capai 35%

Energi Baru Terbarukan merupakan energi anugerah dari Tuhan.

Selasa, 17 Juli 2012, 11:35Nur Farida Ahniar, Iwan Kurniawan
Panel surya di Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid, Srandakan, Bantul
Panel surya di Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid, Srandakan, Bantul(Antara/ Sigid Kurniawan)
Class-it
VIVAnews - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan bahwa penggunaan energi baru terbarukan (EBT) saat ini baru mencapai 5,7 persen.
Untuk itu, Kementerian ESDM akan terus meningkatkan penggunaan EBT menjadi 26 persen pada 2025 dan 35 persen pada 2050 mendatang.

"Political will sudah diberikan Presiden. Dewan Energi Nasional juga telah mengeluarkan kebijakan. Jadi, sekarang tinggal waktunya dikerjakan," kata Wacik dalam Indonesia EBTKE Conex 2012 di Jakarta, Selasa 17 Juli
2012.
Menurut Wacik, dorongan untuk menggunakan energi terbarukan merupakan salah satu perintah Presiden yang diamanatkan kepada dirinya. Untuk itu, Kementerian ESDM terus merumuskan insentif fiskal bagi investor agar mau menanamkan investasi dalam EBT dan konservasi energi.
Salah satu insentif yang dipersiapkan, dia menambahkan, adalah menaikkan harga di hulu EBT. Diharapkan, dengan kenaikan itu akan menarik investor di bidang energi terbarukan tersebut.
Wacik menuturkan, berbeda dengan energi fosil yang harus digali terlebih dahulu, EBT merupakan energi anugerah dari Tuhan. "Untuk tenaga surya, Indonesia lebih kaya. Berbeda dengan batubara yang harus digali dan diangku," ujarnya.
Tenaga air di zaman Pak Harto, lanjutnya, dibuat dari berbagai bendungan untuk pembangkit listrik. Sekarang ini digalakkan kembali, karena banyak danau dan sungai yang belum dibangun.

Sementara itu, Wakil Presiden Boediono menyatakan, pemerintah memiliki komitmen 100 persen untuk mengembangkan EBT. Sebab, Indonesia memiliki banyak ragam dan volume energi baru terbarukan dan itu semua terdapat dalam kebijakan energi nasional.

Kebijakan energi nasional, lanjutnya, harus memenuhi tiga unsur yaitu keamanan energi, menjamin keberlangsungan pertumbuhan ekonomi, dan memperhatikan lingkungan hidup. "Kalau kita salah merumuskan
strategi energi kita, yang menanggung kita sendiri dalam kualitas hidup," katanya.

Boediono mengaku bahwa saat ini, energi nasional masih belum aman, boros, dan kotor. Namun, dengan teknologi pengembangan EBT yang maju pesat, semakin terjangkau, dan ekonomis, ketiga hal tersebut dapat diatasi.
Menurutnya, salah satu hal yang bisa mempercepat meningkatkan peran EBT adalah listrik. Sebab, Indonesia kaya akan sumber panas bumi. Untuk itu, ia meminta agar Kementerian ESDM membuat kebijakan yang tepat dan komprehensif, dari level terendah seperti bupati hingga level tertinggi.

"Seluruh instansi ikut bertanggung jawab melaksanakannya. Tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan EBT, kalau kerangka ini dirumuskan dengan baik," tutur Wapres. (asp)

Produk Tambang Hilir Tak Kena Royalti


Produk Tambang Hilir Tak Kena Royalti

Sektor hilir ditangani oleh Kementerian Perindustrian.

Selasa, 31 Juli 2012, 12:30Nur Farida Ahniar, R. Jihad Akbar
Ilustrasi aktivitas pertambangan
Ilustrasi aktivitas pertambangan(REUTERS/David Stanway)
Class-it
VIVAnews - Pemerintah memperinci aturan main hilirisasi dengan tidak memungut royalti pada produk hilir yang dihasilkan perusahaan tambang. Hal itu karena adanya kekhawatiran perusahaan tambang akan dikenakan dua kali pembayaran royalti setelah mengembangkan hilirisasi produknya.

"Hilirisasi intinya merangsang dan memberikan insentif," ujar Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, di kantornya, Jakarta, Selasa 31 Juli 2012.

Menurut dia, Kementerian Perindustrian akan mengakomodasi sekurangnya 185 perusahaan tambang yang saat ini berniat melakukan hilirisasi kegiatan pertambangannya. Untuk itu, ada pemisahan sektor, yaitu hulu merupakan kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sedangkan hilir Kementerian Perindustrian.

Khusus untuk produk seperti barang tambang mineral, pemerintah tetap akan mengenakan bea masuk sebesar 20 persen hingga 2014. Hal itu sesuai dengan aturan baru yang dikeluarkan.

Hatta menegaskan, barang tambang mineral harus diproses di dalam negeri.  Untuk itu, perusahaan tambang yang telah melakukan hilirisasi tidak akan didivestasi oleh pemerintah.

"Semua harus diproses di dalam. Seberapa besar tahapan prosesnya, ditentukan Menteri Perindustrian secara bertahap," tandasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, menjelaskan, dukungan dalam bentuk insentif diberikan untuk produsen barang tambang yang bisa diolah kembali. Insentif yang diberikan berupa insentif pajak. (art)

Pencurian Minyak Ancam Dana Bagi Hasil


Pencurian Minyak Ancam Dana Bagi Hasil
Headline
IST
Oleh: Tio Sukanto
ekonomi - Rabu, 1 Agustus 2012 | 10:51 WIB
Berita Terkait
Powered by Translate
INILAH.COM, Palembang - Pencurian atau penjarahan minyak di Sumatera Selatan adalah ancaman besar terhadap penerimaan negara, terutama terhadap dana bagi hasil (DBH) yang diterima oleh daerah penghasil minyak tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan BPMIGAS wilayah Sumatera Selatan Setia Budi dalam acara buka puasa bersama dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) dan jurnalis di Palembang, Selasa sore (31/7/2012).
“Pencurian minyak kecenderungannya bukan menurun, tetapi malah meningkat. Ini akan mendistorsi penerimaan negara. Daerah penghasil akan mengalami kerugian karena pencurian ini akan berdampak terhadap dana bagi hasil,” ujar Setia Budi.
Menurutnya, berkurangnya DBH ini pada akhirnya akan berdampak langsung pada masyarakat di daerah penghasil migas. Sehingga bukan saja merugikan negara tapi juga masyarakat sekitar. “Berkurangnya DBH akan menyengsarakan rakyat,” katanya.
Berdasarkan data PT Pertamina EP, pencurian minyak besar-besaran terjadi pada jalur pipa Prabumulih-Plaju dan jalur pipa Tempino Plaju di Sumatera Selatan. Dari 2010 sampai semester pertama 2012, minyak yang hilang akibat kegiatan pencurian ini sudah mencapai 230 ribu barel.
“Dengan menggunakan asumsi Indonesian Crude Price yang ada dalam APBN, kerugian negara diperkirakan sudah mencapai Rp 220 miliar,” ujar Manajer Humas Pertamina EP Agus Amperianto.
Agus mengatakan, kegiatan pencurian ini juga berpotensi mengakibatkan pencemaran lingkungan, risiko kebakaran, dan gangguan keamanan lainnya. Pencurian secara umum dilakukan dengan melubangi pipa atau disebut illegal tapping.
Modus operandi dari illegal tapping ini beragam, di antaranya adalah melubangi pipa pada beberapa titik (3-4 titik) kemudian mengambil minyak pada pipa pada daerah yang dianggap aman; melakukan pelubangan di dekat gorong-gorong lalu minyak dialirkan melalui selang ke truk atau kendaraan yang akan mengangkut minyak tersebut; dan modus pencurian minyak melalui rumah hunian yang berada diatas pipa penyalur di ruas-ruas tertentu.
"Modus lain yang juga ditemukan adalah melubangi pipa lalu kemudian minyak dialirkan ke tempat penampung, seperti kolam atau sumur gali, yang sudah disiapkan dari awal. Ceceran minyak tersebut selanjutnya dikumpulkan oleh oknum masyarakat lalu dijual ke penadah," ungkap Agus.
Agus menambahkan, maraknya illegal tapping ini disebabkan adanya penadah yang menyalurkan hasil penjarahan kepada pembeli akhir, yang diduga adalah kilang pengolahan minyak ilegal di sekitar lokasi, antara lain di sepanjang jalur Simpang Bayat dan di Jalan Lintas Jambi.
Selain itu, dari fakta hasil penangkapan di lapangan diketahui adanya pembeli akhir di luar Sumatera Selatan, antara lain dari Lampung, Tangerang dan Bangka Belitung.
“Kita tidak menyebut lagi pencurian, tetapi sudah penjarahan karena begitu masif dan terencana,” tegas Agus.
Dari laporan investigasi yang ditulis oleh Majalah Berita Mingguan Gatra bahkan mensinyalir adanya keterlibatan aparat penegak keamanan dalam kasus ini sehingga pelaku seringkali bebas meski sudah ditangkap.
BP Migas meminta semua pemangku kepentingan unnuk berkontribusi menyelesaikan pencurian minyak di Sumatera Selatan ini mengingat tindakan ilegal ini bisa berdampak langsung pada penerimaan negara. Tahun ini sektor hulu migas ditargetkan membukukan penerimaan negara sebesar US$ 33,48 miliar. [ast]

Tunggu Fed, Minyak Mentah Turun


Tunggu Fed, Minyak Mentah Turun
Headline
Ist
Oleh: Wahid Ma'ruf
ekonomi - Rabu, 1 Agustus 2012 | 05:08 WIB
Berita Terkait
Powered by Translate
INILAH.COM, New York - Minyak mentah di pasar global melemah pada perdaganan Selasa (31/7/2012) karena stimulus yang akan diluncurkan bank sentral utama tidak akan dapat menggerakkan ekonomi global.

Minyak AS jenis light sweet turun US$1,9 menjadi US$88,06 per barel untuk pengiriman September. Minyak mentah jenis Brent turun US$1,2 menjadi US$104,92 per barel di London.

Data dari AS tentang harga rumah lebih tinggi, kepercayaan konsumen meningkat dan kegiatan usaha di midwest menurun. Ini memungkinkan stimulus dalam dua hari pertemuan Fed.

"Harga minyak lebih rendah dengan paradoks data ekonomi yang lebih baik mulai dari data PMI Chicago dan kepercayaan konsumen," kata John Kilduff dari Again Capital LLC di New York.

Volume perdagangan minyak tetap bersemangat dengan transaksi Brent dan minyak AS berada dalam rata-rata 30 hari perdagangan. Namun menjelang laporan persediaan minyak pekan lalu, harganya mungkin akan melemah. Sebab pasokan akan meningkat.

Pekan Ini, Harga Minyak Akan Melesat


Pekan Ini, Harga Minyak Akan Melesat
Headline
IST
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
ekonomi - Senin, 30 Juli 2012 | 17:03 WIB
Berita Terkait
Powered by Translate
INILAH.COM, New York – Harga minyak akan naik lagi pekan ini, seiring ekspektasi The Fed akan mengumumkan stimulus tambahan untuk mendorong pemulihan di AS, serta Bank Sentral Eropa (ECB) akan menekan tingginya biaya pinjaman yang tidak berkesinambungan di Spanyol dan Italia.
Reli atas aset berisiko di pasar finansial global dimulai Kamis (26/7/2012), setelah Presiden ECB Mario Draghi menyatakan mandatnya, bahwa ECB siap melakukan apapun untuk mempertahankan Euro.
Harga komoditas naik ke level tertinggi lebih dari sepekan pada keesokan harinya. Namun, tumbuhnya harapan untuk stimulus global lebih lanjut, tidak mampu mencegah penurunan mingguan pertama untuk sektor ini, lebih dari sebulan.

Minyak menguat untuk hari keempat, emas mendekati harga tertinggi sejak awal Mei dan tembaga naik lebih dari satu persen. Sementara saham AS naik dua persen.

Minyak mentah Brent naik US$ 1,21 menjadi US$106,47 per berel pada Jumat, namun mencatatkan kerugian 36 sen untuk sepekan, setelah kenaikan empat pekan berturut-turut. “Harga secara fundamental seharusnya jatuh, namun indikasi stimulus muncul,”ujar Phil Flynn, analis energi senior di The PRICE Futures Group.
Tom Weber, manajer portofolio di Commodity Futures & Options Los Angeles mengatakan sedang menunggu minyak berjangka AS menguji area US$100 pekan ini. "Pembicaraan positif dari Eropa dan keinginan pasar saham untuk komitmen Fed atas QE akan mengangkat minat untuk investasi."
Lima dari 12 responden, atau 42% memperkirakan harga minyak akan naik pekan ini. Sebanyak 4 responden mmperkirakan harga minyak akan turun dan sisanya meyakini, harga minyak akan berada di kisaran saat ini. Demikian menurut survei mingguan CNBC untuk sentimen pasar minyak.

Ahli strategi IG Markets Justin Harper di Singapura berharap ada QE3 yang akan memicu pasar energi menjelang pertemuan dua hari The Fed FOMC, yang dimulai pada Selasa. Sementara pertemuan ECB pada Kamis bisa menjaga sentimen penguatan selama 24 jam.
Menurut Harper, klien IG di seluruh grup optimistis akan minyak, dengan 69% mengambil posisi jangka panjang, atau bertaruh bahwa harga minyak akan naik. “Namun, setiap stimulus yang memicu kenaikan, bisa berbalik arah di akhir pekan, bila data pembayaran gaji sektor non pertanian (non-farm payrolls) AS, di bawah estimasi.” Prediksi konsensus memperkirakan ekonomi AS akan mencipakan 100.000 pekerjaan baru pada Juli.
Bagaimanapun, pasar harus menghadapi pembalikan dari aksi bank sentral yang memupuskan harapan, serta memicu investor kembali fokus pada makro ekonomi serta ancaman yang melekat bahwa Yunani akan keluar dari zona Euro.
Andrew Su, CEO perusahaan perdagangan dan konsultan komoditas, Compass Global Markets di Sydney mengatakan, kegembiraan irasional yang terlihat akhir pekan lalu, harus mereda dan minyak mentah AS bisa turun menuju US$ 88.
"Pada dasarnya, angka persediaan, tingkat produksi dan permintaan produk terus bergerak menuju harga yang lebih rendah. Kami cukup nyaman dengan posisi jangka pendek kami yang baru di US$ 88 pekan ini" Su menulis dalam sebuah laporan yang diterbitkan akhir pekan lalu.
"Mengingat target harga kami sebelumnya di atas US$ 102, kemudian di bawah US$ 80, kita bisa leluasa memantau posisi terbaru, sementara kita menargetkan harga akhir September US$ 76,50."
Di sisi lain , Chairman dan CEO CEF Holdings di Hongkong, Warren Gilman mengatakan, pergerakan minyak Brent saat ini berlebihan. "Saya terus terang terkejut bahwa Brent diperdagangkan lebih dari US$ 100, mengingat adanya permasalahan ekonomi global dan kemungkinan kabar buruk dari pertemuan Troika di Yunani beberapa hari ini," tambahnya.

Namun, Gilman memperingatkan bahwa ada risiko terbalik. "Selalu ada risiko pameran kekuatan senjata Iran pada pekan mendatang, yang dapat memiliki dampak jangka pendek. Tetapi menurut saya, harga di tengah penurunan sepekan ini, relatif tinggi."
Michael Wittner, Kepala Riset Pasar Minyak di Societe Generale mengatakan, pasar minyak akan ditentukan oleh risiko geopolitik, terutama di Suriah dan Iran.“Sebuah krisis Suriah menimbulkan ancaman ketidakstabilan ekstrim di negeri ini,” tulisnya dalam sebuah laporan pada 25 Juli..
Dari segi teknis, Daryl Guppy, CEO Guppytraders.com mengatakan secara grafik, ada potensi kenaikan pada minyak as menguji resisten antara US$ 98 sampai US$ 100.
Sementara itu, Dhiren Sarin, kepala strategi teknikal untuk Asia-Pasifik di Barclays Capital mengatakan secara keseluruhan harga energi cukup netral, namun ada risiko kenaikan moderat untuk minyak mentah Brent di kisaran US$ 101 dan US$ 108. [ast]

Bea Cukai Butuh 15 Ribu Pegawai


Bea Cukai Butuh 15 Ribu Pegawai Baru
Headline
inilah.com
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
ekonomi - Rabu, 1 Agustus 2012 | 10:57 WIB
Berita Terkait
Powered by Translate
INILAH.COM, Jakarta - Semakin luasnya cakupan wilayah kerja Ditjen Bea dan Cukai menjadi alasan diperlukan penambahan pegawai di instansi tersebut hingga 15 ribu personil, dalam 5 tahun ke depan.
Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono menyatakan, jumlah tersebut cukup untuk mengawal perbatasan dan pintu masuk Indonesia seperti pelabuhan dan bandar udara. "Kita ingin 5 tahun ke depan itu sekitar 15 ribuan. Menjadi 15 ribu, sekarang itu10.200 dan ada pensiun," ujarnya di Jakarta, Selasa malam (31/7/2012).
Kebutuhan aparat yang cukup signifikan tersebut, lanjutnya, sehubungan dengan luasnya wilayah Indonesia dan adanya pertumbuhan jumlah bandara serta pelabuhan internasional.
"Jadi selain negaranya luas, banyak sekali yang dikembangkan dan direnovasi menjadi pelabuhan laut dan bandara. Priok 3 tahun lagi kapasitasnya 4 kali lipat, Soetta sekarang saja hampir 4 kali lipat. Nah kalau pegawai cuma segitu-segitu saja ya celaka itu," jelasnya.
Pada tahun ini, Ditjen Bea dan Cukai bakal mendapat tambahan 790 aparat baru. Ia menyatakan, tambahan aparat baru tersebut akan mulai bekerja November nanti. "Tahun ini kita dapat sekitar 790-an yang direstui MenPAN. Sekarang sudah proses, November nanti sudah bisa dipekerjakan, tentunya seblum itu harus dididik dulu," ungkapnya. [ast]