Laman

Selasa, 31 Juli 2012

Pekan Ini, Harga Minyak Akan Melesat


Pekan Ini, Harga Minyak Akan Melesat
Headline
IST
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
ekonomi - Senin, 30 Juli 2012 | 17:03 WIB
Berita Terkait
Powered by Translate
INILAH.COM, New York – Harga minyak akan naik lagi pekan ini, seiring ekspektasi The Fed akan mengumumkan stimulus tambahan untuk mendorong pemulihan di AS, serta Bank Sentral Eropa (ECB) akan menekan tingginya biaya pinjaman yang tidak berkesinambungan di Spanyol dan Italia.
Reli atas aset berisiko di pasar finansial global dimulai Kamis (26/7/2012), setelah Presiden ECB Mario Draghi menyatakan mandatnya, bahwa ECB siap melakukan apapun untuk mempertahankan Euro.
Harga komoditas naik ke level tertinggi lebih dari sepekan pada keesokan harinya. Namun, tumbuhnya harapan untuk stimulus global lebih lanjut, tidak mampu mencegah penurunan mingguan pertama untuk sektor ini, lebih dari sebulan.

Minyak menguat untuk hari keempat, emas mendekati harga tertinggi sejak awal Mei dan tembaga naik lebih dari satu persen. Sementara saham AS naik dua persen.

Minyak mentah Brent naik US$ 1,21 menjadi US$106,47 per berel pada Jumat, namun mencatatkan kerugian 36 sen untuk sepekan, setelah kenaikan empat pekan berturut-turut. “Harga secara fundamental seharusnya jatuh, namun indikasi stimulus muncul,”ujar Phil Flynn, analis energi senior di The PRICE Futures Group.
Tom Weber, manajer portofolio di Commodity Futures & Options Los Angeles mengatakan sedang menunggu minyak berjangka AS menguji area US$100 pekan ini. "Pembicaraan positif dari Eropa dan keinginan pasar saham untuk komitmen Fed atas QE akan mengangkat minat untuk investasi."
Lima dari 12 responden, atau 42% memperkirakan harga minyak akan naik pekan ini. Sebanyak 4 responden mmperkirakan harga minyak akan turun dan sisanya meyakini, harga minyak akan berada di kisaran saat ini. Demikian menurut survei mingguan CNBC untuk sentimen pasar minyak.

Ahli strategi IG Markets Justin Harper di Singapura berharap ada QE3 yang akan memicu pasar energi menjelang pertemuan dua hari The Fed FOMC, yang dimulai pada Selasa. Sementara pertemuan ECB pada Kamis bisa menjaga sentimen penguatan selama 24 jam.
Menurut Harper, klien IG di seluruh grup optimistis akan minyak, dengan 69% mengambil posisi jangka panjang, atau bertaruh bahwa harga minyak akan naik. “Namun, setiap stimulus yang memicu kenaikan, bisa berbalik arah di akhir pekan, bila data pembayaran gaji sektor non pertanian (non-farm payrolls) AS, di bawah estimasi.” Prediksi konsensus memperkirakan ekonomi AS akan mencipakan 100.000 pekerjaan baru pada Juli.
Bagaimanapun, pasar harus menghadapi pembalikan dari aksi bank sentral yang memupuskan harapan, serta memicu investor kembali fokus pada makro ekonomi serta ancaman yang melekat bahwa Yunani akan keluar dari zona Euro.
Andrew Su, CEO perusahaan perdagangan dan konsultan komoditas, Compass Global Markets di Sydney mengatakan, kegembiraan irasional yang terlihat akhir pekan lalu, harus mereda dan minyak mentah AS bisa turun menuju US$ 88.
"Pada dasarnya, angka persediaan, tingkat produksi dan permintaan produk terus bergerak menuju harga yang lebih rendah. Kami cukup nyaman dengan posisi jangka pendek kami yang baru di US$ 88 pekan ini" Su menulis dalam sebuah laporan yang diterbitkan akhir pekan lalu.
"Mengingat target harga kami sebelumnya di atas US$ 102, kemudian di bawah US$ 80, kita bisa leluasa memantau posisi terbaru, sementara kita menargetkan harga akhir September US$ 76,50."
Di sisi lain , Chairman dan CEO CEF Holdings di Hongkong, Warren Gilman mengatakan, pergerakan minyak Brent saat ini berlebihan. "Saya terus terang terkejut bahwa Brent diperdagangkan lebih dari US$ 100, mengingat adanya permasalahan ekonomi global dan kemungkinan kabar buruk dari pertemuan Troika di Yunani beberapa hari ini," tambahnya.

Namun, Gilman memperingatkan bahwa ada risiko terbalik. "Selalu ada risiko pameran kekuatan senjata Iran pada pekan mendatang, yang dapat memiliki dampak jangka pendek. Tetapi menurut saya, harga di tengah penurunan sepekan ini, relatif tinggi."
Michael Wittner, Kepala Riset Pasar Minyak di Societe Generale mengatakan, pasar minyak akan ditentukan oleh risiko geopolitik, terutama di Suriah dan Iran.“Sebuah krisis Suriah menimbulkan ancaman ketidakstabilan ekstrim di negeri ini,” tulisnya dalam sebuah laporan pada 25 Juli..
Dari segi teknis, Daryl Guppy, CEO Guppytraders.com mengatakan secara grafik, ada potensi kenaikan pada minyak as menguji resisten antara US$ 98 sampai US$ 100.
Sementara itu, Dhiren Sarin, kepala strategi teknikal untuk Asia-Pasifik di Barclays Capital mengatakan secara keseluruhan harga energi cukup netral, namun ada risiko kenaikan moderat untuk minyak mentah Brent di kisaran US$ 101 dan US$ 108. [ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar