JAKARTA: Pelaku industri pengecoran logam masih bergantung pada bahan baku impor karena industri dalam negeri belum mampu memproduksinya.
Achmad Safiun, Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo), menuturkan impor bahan baku ini perlu diminimalisasi karena bisa mengurangi nilai tambah pendapatan produsen.
Menurutnya, industri logam primer terdiri dari besi dan aluminium. Pengembangan kedua komoditas tersebut terkendala di sektor hulu dan hilir.
Industri memerlukan alumina untuk menghasilkan produk aluminium, sedangkan Indonesia belum memiliki industri yang memproduksi alumina. Padahal, bauksit sebagai bahan baku untuk menghasilkan alumina telah tersedia di Tanah Air, seperti Kalimantan Barat dan Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Bahkan, Indonesia telah mampu mengekspor bauksit ke sejumlah negara. Akibat tidak ada industri yang memproduksi alumina, sejumlah industri mengimpor dari sejumlah negara, seperti Australia dan sejumlah negara lainnya.
“Misalnya untuk keperluan diecasting, industri terpaksa harus impor,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (7/8/2012).
Kondisi tersebut membuat industri aluminium tidak mampu memproduksi sejumlah varian yang dibutuhkan, seperti high pressure diecasting, low pressure diecasting, dan aluminium foil.
Safiun menuturkan pihaknya berharap ketergantungan industri terhadap produk impor ini bisa segera teratasi karena sejumlah perusahaan siap membangun pabrik di sejumlah daerah.
Selain itu, upaya negosiasi kepemilikan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) oleh pemerintah yang akan dimulai pada tahun ini diharapkan berperan besar terhadap peningkatan nilai tambah dengan pengolahan bahan mineral di dalam negeri.
“Ketika sudah diambil alih, maka kita perlu melakukan persiapan, mulai dari penyediaan bahan baku hingga logistiknya,” ujarnya.
Di sisi lain, ujar Safiun, industri hulu pembuatan besi masih terhambat dalam memproduksi produk besi. Padahal, Indonesia memiliki potensi bahan baku bijih besi di sejumlah daerah.
“Namun sayang, kita belum punya pabrik yang bisa mengolah bijih besi menjadi besi. Saat ini, Indonesia masih impor, padahal sejak beberapa puluh tahun telah memiliki PT Krakatau Steel Tbk,” ujarnya.
Di sektor hilir pengolahan besi, lanjut dia, industri dalam negeri masih terkendala kelengkapan varian yang dibutuhkan konsumen.
Saat ini, produk yang dihasilkan Krakatau Steel hanya beberapa jenis, seperti pelat besi, pelat baja, dan baja lembaran. “Akan tetapi, itu hanya sebagian kecil,” ujarnya.
Safiun mengungkapkan Indonesia masih defisit sejumlah jenis besi, seperti baja yang tidak terlalu memuai, stainless steel, as mobil, dan as untuk kipas angin.
“Selama ini, beberapa keperluan itu masih mengandalkan produk impor,” ungkapnya. (bas)
Achmad Safiun, Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo), menuturkan impor bahan baku ini perlu diminimalisasi karena bisa mengurangi nilai tambah pendapatan produsen.
Menurutnya, industri logam primer terdiri dari besi dan aluminium. Pengembangan kedua komoditas tersebut terkendala di sektor hulu dan hilir.
Industri memerlukan alumina untuk menghasilkan produk aluminium, sedangkan Indonesia belum memiliki industri yang memproduksi alumina. Padahal, bauksit sebagai bahan baku untuk menghasilkan alumina telah tersedia di Tanah Air, seperti Kalimantan Barat dan Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Bahkan, Indonesia telah mampu mengekspor bauksit ke sejumlah negara. Akibat tidak ada industri yang memproduksi alumina, sejumlah industri mengimpor dari sejumlah negara, seperti Australia dan sejumlah negara lainnya.
“Misalnya untuk keperluan diecasting, industri terpaksa harus impor,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (7/8/2012).
Kondisi tersebut membuat industri aluminium tidak mampu memproduksi sejumlah varian yang dibutuhkan, seperti high pressure diecasting, low pressure diecasting, dan aluminium foil.
Safiun menuturkan pihaknya berharap ketergantungan industri terhadap produk impor ini bisa segera teratasi karena sejumlah perusahaan siap membangun pabrik di sejumlah daerah.
Selain itu, upaya negosiasi kepemilikan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) oleh pemerintah yang akan dimulai pada tahun ini diharapkan berperan besar terhadap peningkatan nilai tambah dengan pengolahan bahan mineral di dalam negeri.
“Ketika sudah diambil alih, maka kita perlu melakukan persiapan, mulai dari penyediaan bahan baku hingga logistiknya,” ujarnya.
Di sisi lain, ujar Safiun, industri hulu pembuatan besi masih terhambat dalam memproduksi produk besi. Padahal, Indonesia memiliki potensi bahan baku bijih besi di sejumlah daerah.
“Namun sayang, kita belum punya pabrik yang bisa mengolah bijih besi menjadi besi. Saat ini, Indonesia masih impor, padahal sejak beberapa puluh tahun telah memiliki PT Krakatau Steel Tbk,” ujarnya.
Di sektor hilir pengolahan besi, lanjut dia, industri dalam negeri masih terkendala kelengkapan varian yang dibutuhkan konsumen.
Saat ini, produk yang dihasilkan Krakatau Steel hanya beberapa jenis, seperti pelat besi, pelat baja, dan baja lembaran. “Akan tetapi, itu hanya sebagian kecil,” ujarnya.
Safiun mengungkapkan Indonesia masih defisit sejumlah jenis besi, seperti baja yang tidak terlalu memuai, stainless steel, as mobil, dan as untuk kipas angin.
“Selama ini, beberapa keperluan itu masih mengandalkan produk impor,” ungkapnya. (bas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar