Laman

Kamis, 30 Agustus 2012

Trik Indonesia Merayu Investor Global


Trik Indonesia Merayu Investor Global

Di Karawang, L'oreal akan bangun pabrik terbesarnya di dunia.

Kamis, 30 Agustus 2012, 21:00Nur Farida Ahniar, R. Jihad Akbar
Ilustrasi kawasan industri
Ilustrasi kawasan industri 
Class-it
VIVAnews- Di tengah krisis ekonomi global, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) optimistis mencapai target investasi 2013 sebesar Rp390 triliun. Badan itu kini telah mengantongi tujuh investasi besar senilai Rp200 triliun.

Kepala BKPM Chatib Basri menjelaskan, tahun ini target investasi sebesar Rp283 triliun akan tercapai. Pada semester pertama 2012, investasi yang masuk mencapai Rp148 triliun, atau lebih dari separuh target. Perolehan itu didukung masih tingginya impor barang modal. Artinya, investasi masih akan masuk ke Indonesia hingga akhir tahun.

"Jadi, sudah terjamin, kira-kira sampai akhir tahun ini bisa Rp296 triliun, atau mendekati Rp300 triliun," ujarnya di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis 30 Agustus 2012.

Ada tujuh proyek prioritas yang akan menggelontorkan investasi besar. Pertama, pembangunan pabrik kosmetik terbesar, L'oreal, dari Prancis senilai US$1 miliar. Kedua, investasi pabrik Lotte, industri kimia dari Korea senilai US$5 miliar. Ketiga, MEC dan Nalco, perusahaan rel kereta api dan smelter dari Uni Emirat Arab dan India senilai US$5 miliar.
Lalu, Keempat, pabrik semen SDIC dari China, dengan investasi sebesar US$3 miliar. Kelima, proyek kereta api TransBorneo, dengan investasi dari Singapura senilai US$1,8 miliar. Keenam, Huadian Power, perusahaan pembangkit listrik dari Hong Kong dengan investasi sebesar US$1,6 miliar. Ketujuh, Bhimasena Power, perusahaan pembangkit listrik dari Jepang dengan nilai investasi US$3,7 miliar.

Investasi pabrik kosmetik L'oreal di Indonesia menjadi terbesar di dunia bagi perusahaan itu. Pabrik yang berada di Karawang, Jawa Barat itu, akan dibuka 7 November 2012. Chatib mengatakan perusahaan asal Prancis itu memilih memindahkan produksi terbesarnya ke Indonesia. Alasannya, Indonesia adalah pasar potensial.

Selain itu, Chatib juga menyebutkan, BKPM telah melakukan pertemuan dengan perusahaan ban asal Italia yaitu Pirelli. Perusahaan itu telah menyampaikan, dan sudah disetujui menanamkan investasinya sekitar US$ 126 juta pada tahun ini.

Perusahaan lain yang akan membuka pabriknya, yaitu pabrik popok asal Jepang, PT Nippon Shokubai. Pabrik itu akan beroperasi pada Agustus 2013. Saat ini pembangunannya sudah mencapai 70 persen di kawasan industri Cilegon. Pembangunan pabrik itu menelan investasi sebesar US$300 juta. Pabrik itu akan melayani permintaan pasar di Indonesia, dan sebagian kawasan Asia.

Untuk menarik investasi ini, Chatib memiliki kiat tersendiri. Ia menjelaskan, berbisnis di Indonesia bukanlah hal mudah. Dia menunjukkan risiko yang mungkin muncul dengan sejumlah masalah. Meski begitu, jika berjalan, maka keuntungan yang didapat akan berlipat ganda.

Betapapun, kata Chatib, sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar di kawasan Asia, Indonesia punya potensi pasar yang sangat besar. Hal itu tentu menggiurkan bagi para investor.

Pangsa pasar yang besar itu juga memiliki banyak tantangan. Tapi dia meyakinkan investor bahwa pemerintah punya banyak langkah antisipasi guna menyelesaikan tantangan tersebut. "Kami tidak bisa membohongi investor apa yang terjadi di Indonesia," ujar Chatib di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis 30 Agustus 2012.

Chatib mengatakan bahwa dalam melakukan promosi, dia pun memiliki trik sendiri guna mengenal lebih dalam investor yang disasar. BKPM memiliki mitra intelijen bisnis di seluruh dunia.Maka, ketika melakukan promosi ke luar negeri, dia telah memiliki peluru.

"Untuk promosi ke luar negeri, kami sudah memilih investor apa yang ingin dikejar. Jadi, ketika ke sana sudah tahu apa yang diinginkan investor dan bagaimana minatnya," ungkapnya.

Di tingkatan internal BKPM, dia melanjutkan, peningkatan kualitas pelayanan juga dilakukan. Misalnya meningkatkan pelayanan terpadu satu pintu, peran front office, dan BKPM sebagaiclearing house, serta peningkatan penanaman modal.

Kawal investasi


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi setuju bahwa kedatangan investor ke Indonesia karena potensi pasar Indonesia.Faktor lainnya, para pemodal asing itu melihat peluang masuk ke Indonesia lebih cepat, agar mendapatkan kesempatan lebih banyak.
Hal lain, kata Sofjan, ada indikasi perusahaan besar seperti L'oreal merasa bisnis di negara asal mereka sudah tak kompetitif. Untuk itu, mereka memindahkan pabriknya ke Indonesia.  "Dengan biaya logistik yang mahal, maka lebih baik beralih ke Indonesia. Apalagi pasar kosmetik penduduk lebih 200 juta sangat besar," ujarnya kepada VIVAnews, Kamis, 30 Agustus 2012.

Sofjan mengingatkan BKPM agar terus mengawal izin investasi hingga realisasi. Soalnya, banyak kasus pemberian izin berujung tak seperti yang dijanjikan. Jika ada investor mangkir, izin investasinya bisa dicabut, dan tidak merugikan investor lain yang lebih serius. "Jadi BKPM betul-betul mengikuti proyek tersebut hingga teralisasi," ujarnya.

Pengusaha lokal, kata Sofjan, tak khawatir sopal kompetisi. Alasannya, investasi asing itu akan menciptakan lapangan kerja, pemasukan pajak. Namun harus diwaspadai juga, investor hanya menguji pasar, tapi tanpa realisasi kongkrit.

"Saya agak ragu dengan investor China, karena kerap mereka datang dan berjanji, namun nyatanya batal membangun industri manufaktur," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar